When The End Comes

On being mindful and enjoying things while it last..

Akhir-akhir ini aku tahu kalau otakku suka berjalan-jalan. Seringkali badanku ada di atas kasur, tapi bayanganku seakan-akan aku sudah mengerjakan semua tanggung jawab. Sesimpel karena otaknya sambil mikir (iya, mikir tok). Ya jelas, sorenya cuma ada gedadap-gedadap lari kebingungan karena ada yang belum beres. Gak jarang juga aku sedang berjalan, tapi aku malah asik tenggelam ngelihat story teman-teman di Instagram. Untung aja masih temen, bukan cuma mutual. Di tengah asiknya berjalan, eh tiba-tiba sudah sampai. Senang? Iya karena rasanya ngga makan waktu. Tapi ngga jarang juga hal itu terjadi sambil rebahan, lalu tak terasa 1 jam sudah berlalu. Pernah juga tiba-tiba 3 jam.

Gak jarang akhirnya merasa bahwa badanku ada di sini, tapi isi kepalaku ngga pernah ada di tempat. Lagi asik riset, tapi isi otak malah mikirin cafe mana yang malam ini mau dicoba, atau nebak-nebak kapan ya bisa dateng ke konser David Archuleta. Terus tiba-tiba hari menjadi gelap, dan task list ngga ada yang tercoret. Atau, paling gampang, saat sore datang dan berusaha inget-inget “seharian ini ngapain aja, ya?” — dan ngga tahu apa jawabannya.

Ya sudah, ambil saja kesimpulan, butuh latihan mindfulness. Untuk benar-benar fokus merasakan apa yang ada saat ini, apa yang terjadi saat ini, apa yang bisa dirasakan saat ini. Aku juga lupa kenapa akhirnya solusinya jadi latihan meditasi dan belajar untuk be mindful. Mungkin karena selama ini terlalu mind full? Ketakutan berlebihan akan sesuatu yang bahkan mungkin tak terjadi, gugup dan khawatir karena melihat yang lain terus bergerak tapi sendirinya takut mengambil langkah, yadda-yadda… Singkatnya, aku ngga bisa menyaring hal-hal apa yang harusnya memenuhi otakku. Aku terlalu “baik” dan membiarkan semua hal masuk dan duduk di sana.

Percobaan meditasi pertama: suatu hari di Bulan Maret, beberapa menit setelah bangun tidur dan langsung ke kamar tanpa pegang HP. Literally duduk meditasi, sambil pasang lagu yang gelombang-gelombang alpha-beta whatsoever. Hasilnya: 3 menit sudah jalan-jalan lagi (otaknya). I can’t calm this adventureful brain.

yay to Quora!

Percobaan kedua: sambil rebahan di bathtub pake air anget, dengerin guided affirmation meditation. Hasilnya: ga kepikiran meditasi sama sekali, malah latihan ngambang dan keheranan, gimana caranya orang bisa berenang, ya?

Setidaknya, percobaan yang kedua ini agak berhasil. Hari itu aku coba untuk melihat sesuatu yang memang ada di depan mataku, tanpa perlu memikirkan apa yang pernah kulihat atau mungkin kulihat. Sudah, lihat saja semua yang ada di depan mata. Karena aku tahu apa yang aku lihat jarang sekali untuk terulang. Setahun lebih hidup berdampingan dengan pandemi: dari yang seminggu minimal makan bareng temen 2x jadi ngga bisa ketemu siapapun selama setahun, dan hari-hari itu bisa nginep bareng sama temen could be the best thing happen at that time. And yes, that time, I know that I should everything while it lasted.

Itu dia. Mungkin itu solusinya. Sadar bahwa ada hal-hal indah yang punya kata “selesai” di bagian akhirnya, menjadi salah satu pengingatku untuk terus melihat “sekarang”. Karena, entah baik atau buruk, cerita ini akan berakhir.

Refleksi yang terakhir ini datangnya pelan-pelan, lalu seketika juga, klik! Seperti ombak yang datang perlahan membasuh jemari kaki, lalu tiba-tiba datang satu gelombang besar yang bahkan membuat lututmu ikut basah. Ombak-ombak kecil itu datang dalam bentuk Final Season Bojack Horseman dan The Good Place,

Saat aku tahu bahwa akhirnya season terakhir Bojack Horseman akhirnya dateng, aku berhenti nonton. Takut kalau spoilernya ternyata bener. Takut karena ga punya TV series lagi buat nemenin cuci piring (dan sekarang nonton HIMYM, entah nanti kalau sudah abis mau ganti apa lagi). Akhirnya, dari yang hampir tiap malam nonton, aku sempet stop selama beberapa hari (atau minggu, ya?).

Simply enough, because I don’t want it to end.

Di episode terakhir, spoiler alert, skip the video kalau gamau tahu, akhirnya Todd yang kasih pelajaran:

Todd teach me to be mindful and feel things mindfully, knowing that all things were nice while it lasted. Lagi-lagi, waktu itu ngga kepikiran sampe sejauh itu sih. Banyakan sedihnya karena dengerin Mr Blue.

Setelah beberapa seri TV berlalu, akhirnya aku “belajar lagi” waktu lihat The Good Place. AGAIN, SPOILER AHEAD, tutup langsung page ini terus nonton serinya aja, ya.

Waktu Eleanor ngasih ide tentang The Final Door, aku sebenernya bingung. Apa iya itu jadi solusi mutakhir buat ngasih “semangat” ke orang-orang di Good Place? Well, at least, in TGP, it works.

Because when thing comes to an end, we try to enjoy whatever life served that time. Being mindful and enjoying things…. while it lasted.

Setelah melewati “klik” ini, aku ngga lagi nyobain meditasi. Mungkin emang caranya belum nemu yang pas aja. Jadi, aku pake cara lain. Beberapa waktu lalu aku harus ke Jakarta. Iseng dan hilang arah (alias datang kepagian). Akhirnya aku jalan dari Stasiun Sudirman ke Stasiun Dukuh Atas.

Di deket sana ada taman yang deket jembatan itu, yang kalo siang panasnya mau nangis. Menikmati panas matahari yang nembak langsung ke punggung dan rambut sampai hangat. Melihat 1-2 orang yang berjalan menuju halte bis. Melihat pedestrian yang super rapi dan bersih karena selalu disapu oleh petugas kebersihan. Mendengar suara kereta datang dan suara ojek yang distarter. Hal-hal itu ternyata bisa bikin aku merasa jauh lebih baik.

#pixar soul from My soul has painted like the wings of butterflies
Kurang lebih kalo dibuat potongan film ya begini deh. Soul (2020)

There’s beauty in life that I should look over right now: the present moment.

Kamu lahir. Kamu dibesarkan (atau kadang-kadang, membesarkan diri sendiri). Kamu bertumbuh.

Seringkali fase-fase ini dilalui dalam waktu yang terasa singkat karena membahagiakan. Sebaliknya, tidak sedikit yang mengutuk waktu yang begitu panjang: karena derita terasa tiada akhirnya.

Saat-saat itu, seringkali pilihan yang disodorkan terasa begitu menyebalkan. Bahkan ada kalanya kamu tak dapat memilih. Ya sudah, dijalani saja. Memangnya bisa apa?

Saat-saat lain, pilihan yang tersedia juga tak membantumu. Hanya bisa memilih sabar atau kabur dari rumah. Hanya bisa memilih marah atau menangis. Hanya bisa memilih belajar rajin sampai gila karena tidak suka mata pelajarannya atau ikut remidi (buat aku, saat ujian kimia, opsi kedua lebih menyenangkan. Bisa remidi 2x. Soalnya sama lagi).

Oke, ini cerita yang buruk. Singkatnya, menurutku, ada fase dalam hidup yang menyodorkanmu pilihan, yang kadang-kadang sifatnya tak terelakkan.

Menua, makin dewasa, fase yang berubah. Geli kalau harus disebut sebagai krisis identitas, atau quarter-life crisis, atau nama apa saja yang ingin kau sebutkan. Masa pencarian jati diri yang harusnya sudah dilewati sejak 5-8 tahun lalu sekarang dipertanyakan lagi.

Pilihan makin banyak. Bedanya, pilihan ini tidak datang kepadamu lagi. Mereka bukan lagi sebagai pihak yang aktif. Kamu sendiri yang akhirnya harus bergerak maju. Meskipun ini terdengar sebagai kabar baik, kadang kala, ini seperti kabar buruk. Lebih-lebih bagi yang khawatir untuk mengambil pilihan (oh, sad Chidi, jadi inget The Good Place).

#thegoodplaceedit from Ascende Superius

Oke, skip. Rasanya tulisan tadi terlalu….. serius.

Kini kamu sebagai orang yang harus mengejar pilihan itu. Salah atau benar, entah siapa yang tahu. Lagipula, siapa yang memberikan cap benar atau salah?

Ah, sialan. Padahal ini harusnya menjadi surat untuk memberimu pengingat: tidak perlu khawatir. Tidak perlu berusaha terlalu kerasa untuk menyesuaikan diri dengan pilihan yang kamu ambil, tapi ternyata tidak berjalan dengan mulus. Itu bukan hal yang salah. Anggap saja memang ada polisi tidur. Sekali-dua kali, lepaskan gas, jalan lebih pelan. Pantat sakit, anggap saja oleh-oleh liburan bersama naik mobil 10 jam. You will get used to it.

Tidak perlu berpikir terlalu keras saat merasa tidak cocok, terutama dengan pilihan yang secara aktif, kamu pilih sendiri (alias pilihan ngide yang bukan disodorin sama orang). Kamu mungkin ingin marah, lalu sadar yang bisa dicaci-maki hanya dirimu sendiri. Pilihan macam apa ini, gerutumu.

Tak apa. Hal yang wajar. Di tahun 2020 dan 2021, ada banyak pilihan yang akhirnya kamu kutuk karena selalu merasa salah ambil. Gagal menempatkan diri. Menyesal terlalu lambat. Merasa bukan jalan hidup. Yadda-yadda, much more reasons.

Sudahlah, tak ada gunanya juga gerutumu itu. Aku tidak ingin bilang bersyukur adalah jalan ninja kita, tapi kalau ada satu hal yang bisa kamu lakukan untuk melepaskan beban ini semua, ya hanya itu. Lihat jauh ke belakang. Kamu yang mendorong dirimu sendiri. Kini saatnya dorong lagi. Kalau kamu tidak percaya dengan dirimu sendiri (termasuk semua pilihan bodoh di dalamnya), siapa lagi yang mau percaya? Sudahlah.

Ambil nafas. Kerjakan satu persatu. Hidup begitu indah. Bukan saat yang tepat untuk menyesali hal-hal baik. It’s all about timing and perspective. You good. All is good.

Kapanpun, dimanapun kamu baca tulisan ini nanti, jangan lupa tambahkan sedikit cerita di sini, ya. Pengingat untuk diri sendiri.

My Watch-Again Netflix List

Lagi bosan, terus pengen aja nulis. Beginilah hasilnya.

Sesuai dengan judul, aku mau kasih review (?) beberapa film/docu/series yang berhasil berakhir dengan baik di akun netflixku. Isinya baru sebagian, dan bakalan di-update tiap ada yang selesai. Mungkin suatu hari bakal dipecah-pecah kalau kebanyakan (optimis dulu aja).

Pertama, yang campur-aduk dulu, ngga tahu harus dikategorikan kemana:

Kereta Pagi Ini

Hari ini aku naik kereta commuter line. Dari stasiun yang paling ujung, supaya aku dapat kursi kosong tentunya.

Saat aku baru naik kereta, kondisinya masih sangat sepi. Bangku seberangku juga masih kosong. Daripada bosan menunggu, kuputuskan bermain HP sebentar sebelum tidur. Toh, tujuan akhirku ada di stasiun paling akhir juga.

Sepertinya, selang 10 menit, seorang pria muda datang. Aku mengenalinya dari melihat bayangan kakinya. Ujung mataku masih bisa melihat rambutnya. Dia bertopi.

Akhirnya aku mendongakkan kepala, karena ibu-ibu di sebelahnya mengoceh tiada henti. Benar kok, laki-laki. Agak sipit. Sisa kumis yang agak berantakan plus tajam karena baru dicukur 3-4 hari lalu, sepertinya. Matanya mengantuk, dengan kacamata hitam melingkar tebal.

Aku sempat kaget. Sial, mirip sekali dengan kamu. Tapi kan, kamu tidak tinggal di Jakarta. Kalaupun kamu di Jakarta, kota ini terlalu besar untuk memberikan kesempatan bagi kita bertemu kembali. Tidak, tidak. Bukan kamu.

Tapi kalau itu kamu, bagaimana? Bukankah harusnya kamu juga bertanya-tanya hal yang sama? Mungkinkah kamu memanggilku, atau mengirimku pesan?

Ujung-ujungnya aku berpikir. Kalau suatu hari kita bertemu secara tak sengaja di dalam kereta, bagaimana? Mungkin yang ada hanya tukaran tatapan penuh kebingungan. Dulu matamu yang kupuja-puja sebagai yang paling indah, sekarang juga sudah lupa (atau kupaksa lupa, lebih tepatnya). Jadi, mana bisa kupastikan kalau itu.. kamu?

Ah, mungkin memang ada baiknya tidak perlu bertemu lagi saja.

Ngga lama kemudian pindah peron. Ada orang lewat. Parfumnya (atau bau laundry-nya kali, ya) mirip sama punyamu. Bukan, bukan mirip. Persis. Sialan.

Bahkan kemanapun aku pergi, ada selalu ada memori atas kepergianmu.

11 jam sebelum sidang

Kurang dari 12 jam dari sekarang, aku bakal menghadapi sidang skripsi. Takut? Iyalah gimana ya siapa yang ngga takut sidang skripsi.

Sayangnya, tulisan di sini bukan untuk ngomongin takut skripsi dan pembahasan administrasi lainnya. Aku cuma mau nulis cepet-cepetan sebelum tidur: how grateful I am for all the helping hands. Ada banyak orang yang menemani aku sampai di titik ini.

Niatan awalnya, aku mau nulis kata pengantar di tanggal 31/12/20 — bareng sama nulis resolusi. Masalahnya, aku merasa belum siap. Terus aku tunda, tunda, sampai sekarang. Sampai aku pikir, ya kan harusnya kata pengantar nanti ya waktu skripsinya sudah selesai. Kalau sebelum sidang, kan belum beres juga berarti skripsinya. Ternyata kata Mba Tessa, Pak Harsanto ngecek skripsi sampai Kata Pengantar. Kicep. Wqwqwq.

Draft yang aku kirim ke dosen masih banyak cacatnya. Gaada kata pengantar. Kayanya belum dicoret juga dari daftar isi. Lampirannya ketinggalan. Typo ngga banyak, tapi daftar pustakanya ada yang belum kecatat — terutama jurnal (karena last minute aku hapus semua yang dari EndNote, terus malah aku buat manual, bodoh memang).

Oke, balik lagi ke kata pengantar. Huft, padahal cuma mau refleksi sebentar. Daripada memikirkan rasa takut, lebih baik aku memikirkan rasa bahagia karena sedikit lagi, kalau sukses, bakal membuat orang-orang bangga ke aku. Semoga sih, ya.

Terima kasih karena sudah mau menemani aku sampai deket garis finish. Dikit lagi aku beres, kok. Maaf ketinggalan lama, merepotkan kalian selama setahun terakhir, bahkan lebih. Terima kasih karena sudah memberi masukan untuk materinya (yang aku yakin kalian sendiri bingung, wong aku kadang juga lupa), sudah memberikan masukan untuk otakku yang suka bingung karena gatau harus panik atau santai (iya, aku sesantai itu, sampai harus dimarah-marahin terus baru panik bikin PPT). Terima kasih sudah menguatkan aku untuk seenggaknya menyelesaikan sesuatu yang sudah aku mulai. Terima kasih sudah mau angkat telpon (bahkan nelpon duluan) … just to calm me downand make sure everything’s okay.

Terima kasih sudah mau menemani aku sampai sejauh ini.

Btw, ini kalau ditanya nervous apa engga sebelum sidang, jawabannya enggak terlalu. Gugupnya nanti pasti waktu sudah mau mulai. Waktu ngga bisa jawab pertanyaan. Waktu ga sengaja ngelucu (I can’t control this, hhhuuuuft). Waktu tiba-tiba sakit perut (sering mules di saat yang ga masuk akal).

Tadi sore sempet mampir gereja buat Misa Harian. Pas doa rosario, hari ini lagi dapet peristiwa sedih. Oke, yasudah, bukan pertanda buruk. Doa Rosario tetaplah sempurna apa-adanya, karena memang demikianlah Ia. Jadi kusambung-sambunginlah ujud doanya dalam tiap peristiwa (tentu saja salah satu alasannya supaya aku engga ngantuk).

1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut
—- walaupun kesesakanku ngga ada apa-apanya sama yang dialami Tuhan, aku belajar untuk tetap berdoa dan menyerahkan ketakutanku di saat-saat ini. Saat yang aku ngga tahu aku harus apa, sebenarnya.

2. Yesus didera 
— semoga derita dan tangisan (gimana engga nangis pas skripsian, ya) sekarang terangkat, dan jadi tanda yang menguatkan aku (tandanya? itu punggung ada bekas kotak-kotak koyo banyak banget)

3. Yesus dimahkotai duri
— Tadi ngga sempet doain apa-apa. Yaudah, doa aja. Dengerin renungannya.

4. Yesus memanggul salib-Nya (ke Gunung Kalvari)
— seperti Yesus yang dibantu oleh Simon, semoga orang-orang yang membantuku selama ini engkau berkati. Aku ngga pernah terpikir bahwa bantuan sekecil ‘tanya kabar’, meskipun sensitif, ternyata menunjukkan kalau mereka sebenarnya peduli. Mungkin itulah kenapa akhirnya sempat sedih karena ada yang sibuk dan terlewatkan. But that’s okay, that’s part of adulting. I know they still care, anyway. And I’m grateful for that.

5. Yesus wafat di salib 
— semoga semua ketakutan yang aku bawa selama ini dihilangkan. Sudah. Biarkan yang ada hanya kekuatan. Tuhan sendiri nanti yang menguatkan.

Waktu misa, bacaannya hari ini sebenernya tentang Hari Sabat. Agak ngga bisa nyambung-nyambungin. Malahan lebih nyambung Mazmur-nya, “Tuhan selamanya ingat akan perjanjian-Nya.” OK. Tenang lagi.

Pulang gereja, minta berkat dari Romo. Adem banget. Pada akhirnya, memang cuma butuh penguatan. Besok mau pertanggungjawabin apa yang aku cari tahu secara ilmiah. Semoga aku dikuatkan Tuhan. Semoga akal budiku diterangi oleh Roh Kudus. Semoga akur terus sama adekku. (Iya, ini misanya bareng Meme yang jadi petugas misa, wkwk)

Dah, gitu aja ceritanya. Ini sudah jam 3 pagi. Nanti mau bangun jam… 9? 10? Latihan presentasi sekali lagi, terus sidang skripsi. Oke. Maafkan aku dosen-dosen lingkunganku karena aku print skripsi. Nanti lembarannya biar dipake adekku buat ujian matematika aja.

#dirumahaja ed. 4: sampai 2021

Meskipun hashtag-nya udah engga serame tahun lalu, dan orang-orang (termasuk aku) udah santai banget keluar rumah seakan-akan Corona pergi dengan cheat, “asal sesuai protokol kesehatan,” ternyata aku masih di rumah aja waktu tahun baru.

Seperti biasa, kali ini aku mau kontemplasi, recall, nulis kaleidoskop, apapun itu namanya tentang 2020. Tulisannya sih, udah disiapin mulai 31/12, tapi ya.. gitu deh. Nunggu mood kelarinnya yang lama. :’)

Sebagian besar ceritanya ya cuma tentang di rumah aja (padahal gaada yang bisa diceritain dengan di rumah aja), dengan satu-dua tambahan yang patut dijadikan pelajaran untuk ke depannya. So, as a side note, this means to be personal.. Aku taruh di sini supaya pelajarannya ngga hilang kalau aku taruh di HP begitu aja. Di samping itu, aku juga mau nulis beberapa gratitude notes buat orang-orang yang terus bikin aku sadar 2020 masih bermakna, apapun bentuknya.

strange feelings

Pulang ke Surabaya kali ini makin aneh rasanya. Padahal, suasananya sangat familiar. Iyalah, namanya juga kota kelahiran. Lahir dan besar di sini. Ga perlu pura-pura medok dan berusaha fit-in dengan gaya pergaulannya. Tahu mana aja hidden gem makanan enak di gang deket rumah. Ngomel kalau harus jalan ke GM karena jaraknya ada 12 km, padahal dari Gading Serpong ke Stasiun Rawabuntu ataupun Stasiun Tanah Tinggi sama-sama 12 km (dan dulu harus begitu tiap Senin karena ngampus naik kereta).

Namun tetap saja, ada yang aneh. Terlepas dari COVID-19 dan Jane yang sekarang jadi perhatian sama sanitasi, entah kenapa sesekali aku merasa terasing dari tempat ini.

Ada banyak wajah familier, tapi mereka terasa begitu… asing.

Ada perasaan yang begitu akrab, tapi sekaligus terasa tak lagi aku kenali.

Continue reading “strange feelings”

Mencoba Produktif dengan Notion

Tulisan ini cocok untuk kamu yang:

  • sedang kuliah online
  • ingin tahu cara menyimpan dan organisasi informasi dengan rapi (dan seru!)
  • suka mencari dan mencatat, alias belajar apa aja deh
  • kepo dan ingin memanfaatkan email kampus sebaik mungkin

Waktu ambil kelas di masa kuliah, aku selalu bawa agenda+buku binder. Kalau yang rapi-rapi, pasti ketemu di halaman paling depan, tapi giliran yang “mencatat dadakan,” siap-siap aja makan halaman paling belakang dari buku agenda.

Kadang-kadang, aku juga mencatat pakai laptop. Apalagi kalau lagi males, ngantuk, dan ingin sambil colong-colong main yang lain. Yup. Buka saja recorder, ketik-ketik tapi sambil liat-liat meme, atau chat sama teman sebangku. Kadang catatannya ada di Microsoft Word, kadang malah cuma di notepad (karena tinggal Win+R, notepad). Makin naik semester, mulai canggih. Pakai google docs, dan mencatat bersama teman. Masuk di semester 7, mulai sering pakai laptop, jadi mulai mencari aplikasi yang gampang digunakan untuk mencatat. Saat itu aku sering menggunakan OneNote, karena bisa offline, tidak perlu pencet ctrl+S alias autosave, dan bentuknya persis seperti Binder tapi kali ini tidak perlu bawa binder berat-berat. Lebih gampang juga untuk mencari catatan, karena bisa langsung ctrl+f untuk semua dokumen.

Semua kenikmatan itu berubah setelah aku mengenal Notion. Kenalannya, sih, udah mulai tahun 2018-an. Waktu itu, aku yang lagi rajin-rajinnya kerja pakai Trello, diberi tahu oleh Meydi kalau ada aplikasi serupa yang namanya Notion. I think she’s been using Notion since then, while I’m stuck in love with my Binder note. Menyesal? Enggg… agak, tapi ngga juga. Aku suka menulis soalnya (literally, menulis di atas kertas). Alhasil, aku ngga berusaha mencari-cari tentang Notion lagi.

Barulah ketika Pandemi ini menyerang, aku merasa ada masalah dengan cara kerjaku yang susah banget untuk tetap fokus (ceritanya ada di sini). Jadi, aku mulai cari-cari tips and trick di youtube (yup, it’s also one way to procrastinate), dan menemukan Ali Abdaal. Dia adalah seorang dokter yang sering membagikan informasi, tips, dan cara-cara untuk tetap produktif lewat berbagai hal. Nah.. akhirnya, di salah satu video, dia mengulas tentang cara dia menggunakan Notion untuk mencatat (as a note-taking app). Although some of those are sponsored, I still love the way he used it! Dari dia juga akhirnya aku paham konsep “building a second brain” dengan aplikasi pencatat (seperti Notion).

Aku ngga pernah nyangka bahwa Notion yang terlihat simpel sekaligus kompleks tersebut bisa digunakan untuk berbagai hal. Mulai dari mencatat materi kuliah, membuat daftar tugas apa saja yang perlu dibuat, termasuk untuk kebutuhan kerja atau manajemen (yang terakhir ini belum kucoba, sih).

Psst, buat kalian yang datang dari post “Perks of Being AnakUI”, aku tahu apa yang kalian cari. Apakah Notion gratis untuk anak UI? Jawabannya, 100% GRATIS! Jangan lupa untuk mendaftarkan diri kalian ke Notion dengan menggunakan email kampus (in my case, @ui.ac.id), dan kalian akan mendapatkan akun “Education

Sedikit penampakan, buat yang kepo. Ini namanya WORKSPACE.

Kalau ngga pakai akun UI atau akun kampus lain, apa bisa pakai Notion?”

Bisa banget, dan kalian tetap mendapatkan akun gratis! Bedanya, kamu cuma mendapatkan akun “Personal”, bukan “Personal Pro”.

Untuk pemakaian pribadi, program personal sudah amat sangat lengkap dan cukup. Kamu bisa buka Notion lewat HP dan browser, bisa membuat ‘blocks’ sebanyak mungkin (dulu yang gratis maksimal 1000 blocks, terbatas), dan bisa dibagikan (untuk edit dan komentar) hingga 5 pengguna. It’s more than enough, I guess. Kalau kamu ingin baca lebih lanjut, coba klik di link ini, ya.

Now, enough with the chit-chat. Aku kasih lihat sedikit penampakan Notion saat kamu sudah daftar, ya.

Di sisi sebelah kiri, kamu akan mendapatkan 5 (lima) page dari Notion yang cukup penting. Ada Getting Started (isinya tentang apa saja sih yang bisa kamu pakai dari Notion),

Grade Calculator untuk menghitung nilai,
(yang ini agak kompleks, memang, aku juga tidak pakai ini karena menyesuaikan dengan caraku sendiri)

Club Homepage yang cocok untuk dipakai manajemen organisasi bersama-sama dengan teman,

…. dan Reading List untuk mencatat buku (bahkan video, lagu, podcast), apapun yang ingin kamu catat. So kewl!!

Itu baru dari Notion. Buat kamu yang merasa tidak cocok, dan ingin berkreasi dengan caramu sendiri, Notion juga bisa! Set-up super fleksibel dan dapat disesuaikan dengan gaya setiap orang. Buat aku sendiri, waktu itu kumulai dengan mencari inspirasi dari template yang ada di sini. Atau, main-main ke akun youtube orang-orang yang jatuh cinta dengan Notion juga. Kalau kamu ingin belajar dan paham konsepnya supaya lebih membantu produktivitas, aku sarankan kamu main ke channel-channel ini:

1. Notion (yep, the Notion itself). Ada beberapa video simpel, straightforward, spesial buat kamu yang baru join pakai Notion. (Click here to go to their youtube account)

2. Ali Abdaal. Belajar dan pahami cara dia menggunakan cara Notion untuk mencatat, belajar, manajemen dan produktivitas.

3. Zahid Azmi Ibrahim. Yang satu ini datang dari Indonesia, jadi penjelasannya dengan Bahasa Indonesia, simpel, praktis dan mudah dipahami. Go to his youtube account right here!

4. Aldian Alfaridz. Satu lagi dari Indonesia! Kamu bisa cek ke sini juga, cocok banget untuk kamu yang sedang kuliah.

5. Marie Poulin. Sedikit lebih advance dan kompleks, tapi mudah dipahami karena seringkali dia mengajar dengan cara “building from scratch” alias buat dari kosongan. Besides, she teaches Notion Mastery, if that didn’t enough for you. (Click here to go to her youtube account)

Mungkin sekian dulu informasi terkait Notion. Aku sedang berencana membagikan Notion milikku via youtube, tapi masih belum pede karena masih berantakan. Selain itu, aku juga mau buat series supaya lebih mudah dipahami, mengingat yang ada sekarang hanya ada satu bahasa saja. Sulit juga kalau harus menjelaskan hanya via tulisan..

Kira-kira, apa yang ingin kamu ketahui lagi dari Notion? Apakah kamu tertarik untuk mencobanya juga?

Bonus: my set-up per 16/10/20. Lagi progress direparasi pasca belajar P.A.R.A.

this is not a drunk note

Mungkin benar, bahwa ada kalanya saat kita hendak bergerak maju, ada beberapa hal yang harus direlakan.

Ini bukan tentang hati, juga bukan tentang karir. Lagi-lagi ini tentang skripsi. Awalnya, masalah ini mau kutanyakan ke dosen pembimbing. Sempat juga mau kutanyakan senior yang sering kutodong masalah kuliah (termasuk skripsi). Tapi.. waktu aku klik WA, waktu kuketik pesan dan pertanyaanku, seperti ada suara di otak yang bilang, “Kamu tahu jawabannya. Ngapain ditanyain? Kenapa selalu butuh reassurance untuk sesuatu yang kamu tahu akan mengarah kemana?”

Oke, sekarang kuceritakan konteksnya. Ceritanya, aku lagi nulis tentang keamanan pangan, pakan, serta lingkungan dalam konteks produk rekayasa genetik. Di Bab 2 dan 3, aku sudah bahas semua tentang peraturan plus implementasi isinya terhadap tiga sekawan itu.

Masalahnya baru kusadari saat literatur rujukan untuk bab 4 cuma nge-cover masalah lingkungan. Yang pangan dan pakan, gimana? Cari rujukannya setengah mati. Konsep ini belum dipakai sama pakar-pakar di bidang tersebut, atau aku yang kurang lihai mencari, entahlah. Literatur rujukannya aja dapet dari dosen pembimbing, ngga ketemu di internet. Jadi, mau baca sampe otak meledak juga aku ngga akan bisa pakai konsep yang sama langsung ke pangan dan pakan, karena tentu saja saya cuma calon SH yang ujian biologi aja masih remidi. Ngaku deh, dulu siklus krebs-calvin juga nyontek di meja, gagal lagi. Metode penelitian juga nilaiku pas-pasan.

Setelah 2 minggu mencari, akhirnya, menyerah. Aku hapus saja tentang pangan dan pakannya, ngga nemu juga supporting framework yang bisa justifikasi alasan ini.

Berarti semua pembahasan di Bab 2 dan Bab 3 tentang Pangan dan Pakan, dihapus dong? Deg. Berhenti. Mikir. Mau ditanyain, aku juga tahu jawabannya: Iya. Karena tidak relevan. Ngapain nambah-nambahin pembahasan. Tapi kan Bab 2 tentang regulasi? Masukin ajalah ngga papa, biar lengkap pembahasannya. Toh pertanyaan di rumusan masalah juga tentang PRG.. Iya tapi kaga nyambung bambanc. Toh, rumusan masalahnya masih bisa disesuaikan.

Diskusi ini terus berlanjut dengan sendirinya. Aku tahu juga mulai merem sampai melek lagi juga ini lagi masalahnya. Sayangnya, mungkin ini jalan yang paling ‘pas’ untuk akhirnya bergerak maju dan menyelesaikan skripsi ini.

Meet the Robinsons quotes
In this case, it was not the bad stuff. It was the bad decision that I think it would help my research (ooooh what a fool…)

Mungkin setelah dilepas, skripsi ini akhirnya bisa meng-adress pertanyaan minggu-minggu lalu. Tentang “DI MANA UNSUR HUKUMNYA SIIIH TULISAN INI??” Setelah baca buku PIH, agak tercerahkan sedikit. Setangkap aku, dalam beberapa hal (kondisi, situasi, kejadian), bisa jadi diikuti konsekuensi tertentu. Bisa sebab-akibat karena hukum alam, bisa juga karena norma hukumnya menentukan demikian. Konsekuensi dan tanggung jawab karena norma hukum ini yang, kemudian, kalau dipikir-pikir, perlu dilihat lagi.

Beberapa hal (alias kondisinya) itu apa? Adanya potensi risiko dari PRG. Perlu diatur karena ada prinsip kehati-hatian, mencegah dampak yang lebih besar, walaupun secara saintifik belum ada bukti 100% itu berdampak buruk. Ada konsekuensi yang mengikuti ga? Ada. Kalau mau nanem jagung biasa, tanem aja. Tapi kalau mau nanem jagung PRG, harus kajian risiko dulu. Udah diatur sih, tapi …

Ya itu yang mau dilihat, lah. Udah gitu aja curhatnya. Ini udah jam 4.42 pagi. Belum tidur. Seperti biasa. Semangat. Saatnya tidur, dan lanjut lagi esok hari.

krisis sebelum lulus

Aku sebenarnya ragu untuk cerita mengenai topik ini di sini. Terlalu vulnerable, takut dikira tidak niat kuliah, entah apalagi hal-hal negatif yang bisa ditarik dari cerita ini. Hanya saja, setelah dipikir-pikir, inti membuat blog ini juga untuk refleksi.. (halah, refleksi kok cuma akhir tahun).

I think the first paragraph gives you enough ‘spoiler’ on this post. This isn’t a rant, this is me opening up my “over-worrying-things” side.

Sebagian besar teman-temanku sidang di Bulan Juli, sedangkan aku lewat sampai Oktober. Dari bulan April-Mei sebenarnya sudah siap. Bahkan kalau dipikir-pikir, dari 2-3 tahun lalu, sudah bercanda siap-siap 4-5 tahun karena merasa ga cukup pintar untuk lulus 4 tahun. Dalam hati mah tetep mikir, “CEPET LULUS AYOOOO BETAH BANGET DI FH.”

Itu baru isu pertama. Kenapa jadi isu? Karena banyak senior yang cerita bahwa trend mereka adalah lulus 3.5 tahun, dan 4 tahun bagi mereka adalah waktu yang (cukup) lama. Padahal buat aku, ya pas-pas aja. Di samping itu memang aku ketinggalan 1 matkul, jadi terpaksa ambil di semester 8. Pelajaran dari sini: cek lagi syarat di setiap peminatan shayang, susun jadwal di tiap semester dengan baik, otherwise kamu tidak lulus-lulus karena nunggu kelasnya dibuka.

Isu berikutnya, dan mungkin yang utama adalah, aku sering merasa kebingungan “masuk FH belajar apa sih?” Oke, aku inget aku belajar Ilmu Negara, Benper, Dagan dan HOP, Hukum Islam, the trilogy of HAPID-HAPER-PRAPTUN + PLKH wajibnya, dan banyak matkul-matkul wajib lainnya. But when it comes to PIH (atau malah Filsafat Hukum ya?) well..

Sedikit ingatan tentang PIH, memang ada. Pokoknya, pas ujian, kalau ditanya apa itu hukum, jawabannya “tidak ada definisi yang pasti mengenai hal itu. TETAPI, menurut Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, ada 9 arti hukum, yaitu …” and the list goes on. We completely forget about this, then move on to more practical things.

Begitu juga dengan skripsi. In my opinion, trennya lebih ke menulis sesuatu yang “IS THIS LEGAL OR NOT?”, dengan merujuk ke peraturan di atasnya. Atau, ke, “IS THIS REGULATED OR NOT?”. Dari satu peraturan ke yang lainnya, yang bahasanya masih Belanda sampai ke yang tiap tahun ganti peraturan, dari yang singkat-jelas-padat sampai yang semrawut. The goals? To make it clear: Yes this is legal dude. Yes the regulation is exist dude. No you can’t do that sh*t. There’s a loophole of regulation here!!

Masalahnya jadi lebih parah lagi kalau ternyata opini di atas ini salah. Karena, banyak juga skripsi yang membahas sesuatu yang lebih dalam. They’re talking about what’s wrong with the regulation. How to fix this problem with an existing law, or even with “ius constituendum”. Apalagi yang akhirnya membawa filsafat hukum ke dalamnya. What they talk about is… concept. Yang dibawa ke dalam tataran praktik sehari-hari.

So what are you really trying to explain here, Jane?

Skripsiku kadang-kadang terasa seperti kekurangan segi “hukum”nya. Berangkatnya memang dari peraturan. Hanya saja, kalau dibaca, kadang aku merasa, terus hukumnya dimana? Ini juga bukan skripsi yang bawa filsafat hukum.

Aku ngga bisa berhenti tanya, memang skripsi anak FH harusnya gimana, sih? Punyaku ini masih bener masuk skripsi anak hukum ga sih? Iya, skripsi ini temanya aku sendiri yang pilih. Aku sendiri yang diskusi sama dosen pembimbing. Situasi sekarang lebih ke tersesat dan mempertanyakan 4 tahun terakhir belajar apa? Kok ngga tahu hukum itu apa? Atau hukum itu belajar apa? Atau lebih ekstrim lagi, lulus nanti memang bisa kasi dampak apa?

Ngapain mikirin gituan coba, Jane..”

Aku juga ngga mau mikirin, tapi kadang-kadang memikirkan teman-temanku yang sekolah dokter jadi beda ceritanya. Mereka lulus S.Ked, penuh dengan kecerdasan di tingkat yang tidak mungkin kuraih dalam waktu 3.5, setidaknya bisa tahu aku sakit parah/ngga untuk dibawa ke dokter beneran, that amaze me. Sedangkan aku, lulus S.H., kalau ditanya “ini kalau pemegang saham cuma 1 boleh ga sih??” I SHOULD OPEN UUPT FIRST TO CHECK IT, padahal itu (harusnya) konsep dasar yang dipahami kalau sudah ambil HOP. Hah. Aduh.

I don’t know, I don’t know if I’m qualified enough as a law student, or graduated with law degree.

Pembelaan? Ngga deh, males. Iya, aku ngambilnya memang hukum lingkungan. Masalahnya lagi, kadang aku sendiri bingung apa skripsiku masih masuk hukum lingkungan? Ini masalah lingkungan yang bisa dijawab sama hukum ya? Dimana hukumnya bisa ‘bekerja’, memangnya?

Jadi akhirnya, 2-3 hari terakhir, buka-buka lagi buku pengantar hukum, pengantar hukum lingkungan, nyari-nyari konsepnya, apa yang sebenarnya mau dicapai dengan memahami semua rantai-rantai ini. Aku berharap setidaknya dengan memahami dasar ini (lagi), ada justifikasi yang cukup kalau tulisanku bisa berkontribusi untuk menyelesaikan masalah lingkungan.. dengan hukum (atau.. ‘sets of regulation‘?).

Baby Dont Hurt GIFs | Tenor
What is law~

Pelajaran kali ini: belajar konsep memang membosankan. Tapi itu membantu, apalagi kalau sudah tersesat, kebingungan, lalu tiba-tiba krisis eksistensi. Empat tahun belajar apa? Banyak. Tapi bingung, hukum itu apa? hukum mau bantu buat apa? Apa cuma bantu atur-atur (iya, ini salah satu fungsinya), atau untuk… ya…. seperti yang dikhawatirkan banyak orang, lah. Haha.

Pelajaran lagi: PIH, PHI, dan Filsafat Hukum. Perhatikan kelas itu baik-baik. Jangan mentang-mentang dikata kelas susah terus maunya ‘yang penting lulus’. I regret it. Bener kata Pareto kayanya.